EFEKTIVITAS PEMAKAIAN ALAT PERAGA


Laporan Penelitian:

EFEKTIVITAS PEMAKAIAN ALAT PERAGA PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI KELAS XI IA SEMESTER II SMA NEGERI 17 MEDAN TAHUN PELAJARAN 2007/2008

D

I

S

U

S

U

N

OLEH

DARMASIUS TARIGAN,SPd

NIP. 131680382

SMA NEGERI 17 MEDAN

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Beberapa tahun belakangan ini prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matemátika cukup memprihatinkan, terlebih-lebih jika kita melihat Nilai Ebtanas Murni (NEM) Matemátika, baik ditingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA)selalu saja menduduki tempat yang paling bawah dari semua mata pelajaran yang di Ebtanaskan.

Banyak siswa yang menganggap matemátika ádalah mata pelajaran yang ditakuti dan paling sulit. (Nasution, 1982 : 1) mengemukakan bahwa kebanyakan dari antara kita mempunyai pengalaman pahit sewaktu mempelajari matimatika di bangku sekolah dasar dan lanjutan. Kenyataan ini menghambur menjadi suatu kebencian terhadap apa saja yang berhubungan dengan matematika sehingga tidak jarang pula ditemukan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matemátika cenderung rendah.

Belajar matemátika memerlukan pikiran yang tinggi. Juga matemátika itu bersifat abstrak. Agar pengajaran matematika itu tidak terlalu abstrak maka pembelajar dapat menyampaikan melalui bantuan alat peraga.

Pembelajar harus memiliki kompetensi-kompetensi mengajar. Ruseffendi (1988) mengemukakan bahwa guru harus dapat memilih alat peraga/ metode pembelajaran yang sesuai dengan topik bahasan, agar hasil guna belajar dapat ditingkatkan.

Disamping itu sewaktu membelajarkan matemátika tidak jarang pembelajar menyampaikan suatu topik bahasan tanpa alat peraga. Walaupun sebenarnya alat peraga yang diperlukan relatif sederhana. Bahkan sekolah juga ada menyediakan alat peraga, Namun pembelajar enggan untuk menggunakannya. Dengan masih langkanya pembelajar menggunakan alat peraga maka kualitas pendidikan matemátika akan tetap rendah.

2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan diteliti adalah:

- Bagaimana tingkat penguasaan guru terhadap penggunaan alat peraga.

- Bagaimana ketrampilan guru untuk menggunakan alat peraga.

- Bagaimana guru mendesain alat peraga dan menggunakannya di kelas.

3. Tujuan Penelitian.

Penelitian ini bertujuan:

a. Untuk menelusuri bagaimana tingkat penguasaan guru terhadap penggunaan alat peraga.

b. Untuk menelusuri bagaimana ketrampilan guru untuk menggunakan alat peraga.

c. Untuk menelusuri bagaimana efisiensi waktu dalam pembelajaran matematika

4. Manfaat penelitian.

a. Bagi pembelajar, akan mempunyai manfaat secara langsung untuk meningkatkan pemahamannya tentang alat peraga.

b. Guru dapat mendesain alat peraga yang sederhana dan meningkatkan kemampuannya terhadap penggunaan alat peraga.

c. Bagi siswa, akan bermanfaat secara langsung untuk melibatkan semakin banyak panca indra sehingga menambah motivasi untuk mempelajari matematika.

d. Efisiensi waktu, sehingga daya guna pembelajaran matematika lebih meningkat.

BAB II

LANDASAN PEMIKIRAN

1. Kerangka Teoritis.

Ruseffendi (1998) mengemukakan bahwa alat bantu pengajaran itu menambah siswa bersikap positip dan membantu pemahaman terhadap bidang studynya: siswa yang belajar matematikanya menggunakan alat peraga atau pengajaran, sikapnya terhadap matematika lebih positip dan penguasaannya lebih baik daripada mereka yang tidak menggunakannya. Akan tetapi, penggunaan alat peraga atau pengajaran itu juga bisa tidak berhasil, membuang-buang waktu, tidak menambah pemahaman, dan lain-lain. Karena itu guru harus mampu menepat gunakannya.

Dalam mengajarkan matematika guru harus efektip. Guru efektip adalah guru yang mengajarnya berhasil; tujuan pengajarannya tercapai. Guru efektip itu ialah guru yang memiliki sebongkah kompetensi (competency based) dan mampu menerapkannya (performance based) serta guru yang baik (berkualifikasi) itu adalah guru yang menguasai bidang studi dan mampu menggunakan metoda yang tepat.

2. Kerangka Konseptual.

Dari kerangka teoritis dapat dilihat bahwa alat bantu mengajar itu menambah siswa bersikap positip dan penguasaannya lebih baik. Sebagai guru yang efektip dan berkualitas maka guru itu dalam menerapkan kompetensinya harus jeli memilih metoda yang baik serta pemakaian alat peraga yang tepat guna. Kegunaan alat peraga dapat milibatkan indra yang lebih banyak, walaupun alat peraga itu sederhana.

3. Hipotesis Penelitian.

Ho: Tidak terdapat pengaruh yang positip mengajar dengan menggunakan alat peraga terhadap prestasi belajar Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers.

Ha : Terdapat pengaruh yang positip mengajar dengan menggunakan alat peraga terhadap prestasi belajar Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers.

BAB III

RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

1. Lokasi penelitian

Sesuai dengan judul penelitian ini, penulis mengambil lokasi di SMA Negeri 17 Medan. Adapun alasan penulis memilih lokasi adalah karena SMA Negeri 17 Medan merupakan tempat mengajar penulis, sehingga penelitian tindakan dengan mudah dapat dilakukan.

2. Populasi dan Sampel.

Sebagai populasi adalah siswa kelas XI SMA Negeri 17 Medan. Sebagai sampel adalah siswa kelas XI IA4 dan kelas XI IA5.

3. Pelaksanaan Penelitian.

Pelaksanaan tindakan dilakukan pada kelas XI IA5 dengan menggunakan alat peraga dan kelas XI IA4, tidak menggunakan alat peraga. Metoda dan pendekatan di kedua kelas ini sama, tes yang diberikan setelah selesainya pembelajaran topik bahasannya juga sama. Waktu penelitian dari tanggal 4 Februari 2008 sampai dengan tanggal 19 Maret 2008.

4. Alat Pengumpul Data.

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes yang sama pada kedua kelas sampel yang dilakukan setelah selesai pembelajaran topik bahasan yaitu Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers. Tes yang digunakan terdiri dari 8 soal dengan waktu selama 80 menit.

5. Organisasi Pengolahan Data.

Setelah data dari kedua kelas sampel dikumpulkan maka data itu ditabulasikan dengan nilai antara 1 – 10, kemudian mencari rata-rata setiap kelas sampel dengan menggunakan kalkulator Fx. 3600 P. Selanjutnya menguji data apakah homogen atau tidak.

6. Teknik Analisa Data.

Data yang telah diperoleh dianalisa dengan teknik deskriptip, yaitu menggambarkan data sebagaimana adanya. Selanjutnya rata-rata dari setiap sampel dan variannya dihitung dengan menggunakan kalkulator Fx. 3600 P.

Uji homogenitas data dengan rumus :

Fh = varians besar/ varians kecil..

Kriteria : data homogen jika Fh < F tabel pada α tertentu. Karena banyak data pada kedua sampel tidak sama, maka uji hipotesis penelitian ini digunakan

statistik : t =

Kriteria pengujian adalah: Ho diterima jika dan ditolak jika .



BAB IV

PEMBAHASAN PENELITIAN

1. Analisa Data

Setelah dilaksanakan tes yang digunakan sebagai alat pengumpul data maka diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Data dikelas XI IA5 (dengan menggunakan alat peraga)

Varians = 1, 4639

b. Data dikelas XI IA4 (tanpa menggunakan alat peraga)

Varians = 0, 9826

c. Uji homogenitas data :

Fh = 1,49

Ft = 1,71

Fh < Ft berarti data homogen pada α = 0, 05

d. Ringkasan uji t

th = 0, 70

ttabel = 1,67 pada α = 0, 05

Kesimpulan thitung < ttabel

Hal ini berarti Ho diterima.

2. Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji beda , yaitu uji dengan statistik t, dari hasil perhitungan diperoleh t = 0, 70. Dengan mengambil α = 0, 05 dan = 74 diperoleh t yaitu = 1,67.

Harga thitung < ttabel

Hal ini berarti Ho diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang positip mengajar dengan menggunakan alat peraga terhadap prestasi belajar Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers kelas XI IA SMA Negeri 17 Medan.

3. Temuan Penelitian.

a. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diperoleh :

Tidak terdapat pengaruh yang positip mengajar dengan menggunakan alat peraga terhadap prestasi belajar Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers siswa kelas XI IA SMA Negeri 17 Medan. Hal ini kerena mungkin pengetahuan siswa yang merata disebabkan siswa-siswa kelas XI IA mempunyai pengetahuan yang bagus terlihat dari NEM mereka yang diatas 24 (tiga mata pelajaran).

b. Belajaar lebih efektip dan efisien karena guru tidak perlu lagi menggambar di papan tulis yang tetunya menyita waktu.

c. Keterlibatan siswa dalam belajar matematika semakin tinggi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

a. Rata-rata nilai siswa belajar matematika dengan memakai alat peraga dan tanpa memakai alat peraga masing-masing 6,28 dan 6,08.

b. Tidak terdapat pengaruh yang positip antara mengajar dengan memakai alat peraga dan tidak memakai alat peraga terhadap prstasi belajar siswa kelasa XI IA SMA Negeri 17 Medan tahun pelajaran 2007/2008.

c, Pembelajaran lebih efektif dan efisien.

d. Keterlibatan pebelajar lebih tinggi.

2. Saran

Bagi tenaga pembelajar matematika, khususnya di SMA Negeri 17 Medan diharapkan lebih mampu memakai alaat peraga yang sederhana untuk lebih meningkatkan hasil guna dan daya guna pembelajaran matematika guna peningkatan prestasi belajar matematika.

About these ads