PENELITIAN “ Penerapan Metode Praktikum Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Dalam Pokok Bahasan Asam dan Basa di SMP“


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan sehari-hari bagi siswa sekolah. Kegiatan ini dilakukan secara sadar dan terencana yang mengarah pada pencapaian tujuan dari kegiatan belajar yang sudah dirumuskan dan diterapkan sebelumnya. Keberhasilan dalam belajar terlihat dari siswa yang berprestasi.
Keberhasilan siswa dalam belajar tidak terlepas peran aktif guru yang mampu memberi motivasi dan dapat menciptakan iklim belajar yang harmonis, kondusif, menyenangkan dan mampu memberi semangat kepada siswa.
Rendahnya prestasi belajar dipengaruhi beberapa faktor baik internal maupun eksternal siswa itu sendiri. Faktor internal antara lain minat siswa, bakat, motivasi dan intelegensi sedangkan faktor eksternal antara lain metode belajar, fasilitas, media, proses belajar baik di sekolah maupun luar sekolah.
Seseorang akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Motivasi sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui penggunaan strategi belajar yang mampu mengembangkan cara belajar siswa aktif. Dengan demikian guru harus menguasai berbagai bentuk metode mengajar dan menggunakan metode yang sesuai untuk setiap materi yang akan diajarkannya.
Laboratorium adalah suatu tempat untuk melakukan eksperimen dan menguji kebenaran suatu teori maupun konsep. Dengan demikian, kegiatan laboratorium dapat memantapkan pemahaman subjek didik akan materi ajar yang telah diperolehnya dengan melakukan berbagai jenis percobaan atau praktikum (Subiyanto, 1998).
Praktikum merupakan salah satu dari faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang sangat berperan penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar IPA. Teori dan praktikum dalam pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ibarat sisi mata uang yang sama dimana sisi yang satu merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari sisi yang lain. Disatu sisi, praktikum memberi peluang kepada subjek didik untuk memperdalam pemahamannya terhadap materi ajar yang akan diperoleh melalui kegiatan belajar mengajar di kelas dan akan memberikan landasan baru bagi subjek duduk untuk lebih kreatif dalam melakukan praktikum. Beberapa ahli media pembelajaran mengemukakan slogan dalam proses belajar mengajar yaitu : “ If I hear I forget, If I see I remember, If I do I understand and I know ” yang artinya bila saya dengar saya lupa, bila saya lihat saya ingat, bila saya lakukan saya mengerti dan mengetahui. (Latuhera, 1998)
Dalam pelaksanaan proses pengajaran kimia selama ini berlangsung menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tampak kurang berminat, kurang bergairah dan cenderung tidak aktif. Hal ini ditunjukkan oleh sikap yang kurang antusias ketika pelajaran akan berlangsung, rendahnya respon umpan balik dari siswa terhadap pertanyaan dan penjelasan guru serta pemusatan perhatian yang kurang.
Kondisi ini penulis temukan juga ketika melaksanakan Program Pengalaman Lapangan Terpadu (PPLT). Tidak semua peserta didik menaruh perhatian dan keinginan terhadap pelajaran kimia khususnya dalam pelaksanaan praktikum. Hal ini tentunya tidak kita harapkan karena dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
Agar siswa dapat menerima dan menguasai kimia dengan baik khususnya dalam pelaksanaan praktikum, tentunya tidak tergantung pada guru saja, tetapi juga diperlukan adanya keinginan dan dorongan dari diri siswa sendiri bukan karena paksaan. Sebagaimana dinyatakan oleh Dasma (2008) dalam hasil penelitiannya bahwa,”Terdapat kontribusi kegiatan praktikum dengan prestasi belajar biologi siswa.”
Sementara itu motivasi dalam dunia pendidikan dapat dilakukan oleh guru, guru harus mengambil keputusan tentang apa yang harus diajarkan, bagaimana menyajikan pelajaran, menentukan cara pengajaran agar siswa mengikuti apa yang menjadi harapan. Kualitas pengajaran yaitu kemampuan pada guru khususnya yang memberikan pelatihan dan pelaksanaan praktikum, kemampuan guru memberi dorongan, bimbingan dan mengarahkan siswa untuk belajar aktif dan kreatif.
Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Penerapan Metode Praktikum Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Dalam Pokok Bahasan Asam dan Basa di SMP“

1.2. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran kimia khususnya dalam pelaksanaan praktikum
2. Kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan berbagai metode pengajaran yang dapat meningkatkan minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran kimia.

1.3. Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini hanya dibatasi pada upaya meningkatkan hasil belajar kimia siswa dengan menggunakan metode praktikum.

1.4. Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :Apakah terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode praktikum dengan hasil belajar kimia siswa yang diajarkan tanpa menggunakan metode praktikum ?

1.5. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode praktikum dengan hasil belajar kimia siswa yang diajarkan tanpa menggunakan metode praktikum.

1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Menambah wawasan penulis sebagai calon guru tentang pentingnya pelaksanaan kegiatan praktikum untuk diterapkan di lapangan
2. Masukan kepada pihak sekolah tentang pentingnya pelaksanaan praktikum dan penyediaan kelengkapan alat- alat laboratorium kimia agar diperoleh hasil belajar yang maksimal
3. Bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang sejalan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1. Hakekat Belajar dan Mengajar
Bila terjadi proses belajar,maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Kalau sudah terjadi proses/saling berinteraksi, antara yang mengajar dan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung guru juga melakukan belajar (Sardiman, 2000).
Belajar, perkembangan dan pendidikan merupakan gejala yang berkaitan dengan pembelajaran. belajar dilakukan oleh siswa secara individu, perkembangan dialami dan dihayati oleh individu siswa, sedangkan pendidikan merupakan kegiatan interaksi. Dalam kegiatan interaksi itu pendidik atau guru bertindak mendidik siswa sehingga tindakan mendidik tersebut tertuju pada perkembangan siswa menjadi mandiri.
Pada hakikatnya belajar adalah “perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas belajar” (Djamarah dan Zain, 2006). Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 ). Oleh sebab itu, aktivitas mempelajari bahan tersebut tergantung pada kemampuan siswa. Jika bahan belajarnya sukar dan siswa kurang mampu, maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu yang lama. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik (Yusfiani, 2006).
Mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada sekitar anak didik, sehngga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bantuan/bimbingan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang trjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa (Slameto, 2003).
Dari uraian diatas, jelaslah bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan perubahan yang terjadi didalam diri siswa setelah melakukan aktivitas belajar, proses belajar yang dilakukan merupakan aktivitas yang kompleks dan berkaitan dengan masalah-masalah praktis yang bersumber dari siswa dan dari luar siswa. Demikian juga dalam proses belajar mengajar kimia, banyak faktor yang mempengaruhi baik siswa maupun guru itu sendiri.
2.1.2. Teori Belajar
Sardiman (2000) menyatakan ada tiga teori tentang belajar yang terkenal dalam psikologi yaitu :
a. Teori belajar menurut psikologi Gestalt
Belajar menurut teori Psikologi Gestalt dapat diterangkan sebagai berikut : pertama, dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan faktor yang penting. Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dan pengalaman. Kedua, dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanisme belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.
Jadi dalam belajar yang penting adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh respons yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi.
Belajar yang penting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight.
b. Teori Conectionisme
Proses belajar menurut Thorndike melalui proses :
1. Trial and Error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan)
2. Law of effect yang berarti bahwa segala tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari sebaik-baiknya.
Menurut Thorndike belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antar aksi dan reaksi.
c. Teori Conditioning
Menurut teori ini belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (condition) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberi syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan-latihan yang kontiniu. Yang diutamakan dalam teori ini adalah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
2.1.3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu gambaran prestasi belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar pada suatu jenjang yang diikutinya. Menurut Djamarah dan Zein (2002), “hasil belajar adalah hasil yang di peroleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar”. Hasil belajar itu merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan suatu paket belajar tertentu, yang dapat diukur dalam berbagai bentuk melalui proses evaluasi tertentu, hasil yang dicapai dapat berupa ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan), yang semuanya itu tercermin dalam hasil belajar siswa.
Dari uraian diatas, dapat diambil pengertian yang cukup sederhana mengenai hasil belajar. Hasil belajar adalah hasil yang di peroleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam diri siswa sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Jadi, hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam mata pelajaran kimia, yaitu diperoleh melalui tes yang diberikan pada sampel penelitian.
Dalam proses belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan proses belajar mengajar sehingga dapat dikatakan belum atau sudah berhasil. Evaluasi yang menjadi tolak ukur keberhasilan belajar adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar merupakan suatu kemampuan internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau memberikan prestasi tertentu. Hasil belajar yaitu kemampuan yang diperoleh setelah mendapatkan kegiatan belajar yang mengakibatkan perubahan dalam ciri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Winkel (1996) menyatakan bahwa :
“Hasil belajar dikatakan relatif menetap karena adanya kemungkinan suatu hasil belajar ditiadakan atau dihapuskan dan digantikan dengan hasil yang baru”.
Hasil belajar tergantung pada apa yang dipelajari dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar tersebut baik secara intern ataupun ekstern. Pembagian hasil belajar menurut Bloom terbagi atas tiga kategori yaitu:
1. Ranah kognitif yang mencakup tentang pengetahuan
2. Ranah afektif yang mencakup tentang sikap dan penerimaan
3. Ranah psikomotorik yang mencakup tentang kesiapan dan persepsi
Sistematika Gayne, meliputi 5 kategori hasil belajar yaitu:
1. Informasi verbal adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa lisan dan tertulis
2. Kemahiran intelektual adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk refresentasi khususnya berbagai lambang / simbol
3. Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran yang berbeda sifat dengan kemahiran intelektual yang dapat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
4. Keterampilan motorik merupakan suatu keterampilan untuk mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
5. Sikap adalah kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan sehingga mampu memilih secara tegas diantara berbagai kemungkinan.
2.1.4 Laboratorium
Laboratorium dalam pendidikan IPA merupakan suatu tempat dimana guru dan siswa melakukan percobaan, pengamatan dan penelitian. Laboratorium merupakan tempat penunjang dari kegiatan kelas atau sebaliknya kegiatan kelas menjadi penunjang kegiatan laboratorium.
Menurut Subiyanto (1998) mengemukakan bahwa fungsi laboratorium adalah sebagai berikut :
1. Laboratorium IPA dapat merupakan tempat yang baik bagi para siswa untuk berusaha memecahkan masalah baik yang dijumpai didalam laboratorium itu sendiri, didalam kelas atau dimana saja
2. Laboratorium IPA juga dapat sebagai tempat menemukan berbagai macam masalah baru untuk dapat atau tidak dapat dipecahkan oleh para siswa
3. Laboratorium IPA dapat merupakan tempat untuk melakukan eksperimen, latihan atau metode-metode yang lain
4. Bekerja di laboratorium IPA dapat merintis perkembangan sikap ilmiah dimana siswa akan memiliki keterampilan dan berpikir ilmiah. Lewat ketekunan didalam laboratorium para siswa akan dibiasakan untuk membuat suatu disain atau perencanaan dengan teliti dan melakukan penelitian dengan seksama
5. Laboratorium IPA dapat memberi peluang bagi para siswa untuk bekerja mengenal alat dan bahan-bahan tertentu, bekerja sama dengan teman-teman sehingga memiliki gairah yang kuat untuk mengungkapkan atau menemukan sesuatu yang tidak dapat diketahui dan dapat menikmati kepuasan atau hasil yang dapat dicapai
6. Sebagai tempat mendidik siswa agar menjadi cermat, kritis, sabar, jujur dan cekatan
7. Tempat untuk membuktikan fakta atau fenomena tertentu.
Program laboratorium yang sangat memikat dapat mendorong untuk mencintai IPA khususnya kimia, yang nantinya dapat mengantarkan siswa untuk memilih kimia sebagai bidang yang akan digelutinya di kemudian hari. Pada hakekatnya apapun yang dikulakukan dalam kegiatan di laboratoium, hendaknya pengelola laboratorium (laboran) selalu ingat akan tujuan-tujuan pelajaran yang menggunakan laboratorium, yaitu :
1. Mengembangkan keterampilan siswa melalui pengamatan, pencatatan data, penggunaan alat dan membuat alat-alat sederhana
2. Melatih siswa agar dapat bekerja cermat serta mengenal batas-batas pengukuran laboratorium
3. Melatih ketelitian siswa dan kejelasan setta melaporkan hasil percobaan siswa
4. Merangsang daya berpikir kritis analitis siswa melalui eksperimen
5. Memperdalam pengetahuan siswa, mengembangkan kejujuran dan rasa tanggung jawab siswa
6. Melatih siswa merencanakan dan melaksanakan percobaan lebih lanjut dengan menggunakan alat dan bahan yang ada.
Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan kegiatan atau aktivitasnya. Fasilitas tersebut harus berupa fasilitas umum dan khusus, fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium. Contoh :penerangan, ventilasi, air, bak cuci, aliran listrik, gas dan lain-lain.
2.1.5 Pratikum
Pratikum berasal dari kata praktik yang artinya pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori. Sedangkan pratikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksankan di keadaan nyata, apa yang diperoleh dari teori dan pelajaran praktek (KBBI, 2001).
2.1.6 Kegiatan Pratikum
Proses belajar mengajar dalam ruang lingkup mata pelajaran ilmu pengetahuan alam lebih menitik beratkan pada kemampuan siswa secara ilmiah, yang dalam pelaksanaannya memerlukan kemampuan secara khusus atau dengan kata lain hasil yang diperoleh setelah mata pelajaran tidak hanya berupa informasi pengetahuan saja namun keterampilan penggunaan alat laboratoriumpun bisa diperoleh siswa tersebut . Hamalik dalam Arsyad (2000) mengemukakan bahwa˜ Pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar bahkan membawa pengaruh psikologi terhadap siswa.˜
Inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai secara maksimal jika disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar yang diterapkan (Djamarah, 2002). Oleh karena itu sebagai pengajar, guru harus dapat menentukan kegiatan belajar mengajar yang tepat khususnya mata pelajaran kimia. Salah satunya adalah pratikum yang merupakan bentuk pengajaran dimana siswa secara aktif dan langsung dalam usaha memperoleh pengetahuan dan pemahaman teori atau memberikan suatu keterampilan berdasarkan kegiatan ynag telah dilakukan dalam ruang lingkup petunjuk yang telah ada.
Kegiatan praktikum membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan belajar secara teori. Akan tetapi, masalah tersebut dapat diatasi dengan mengatur waktu dan mengalokasikan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sehingga kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar tanpa ada masalah pada pengaturan waktunya.
Praktikum merupakan salah satu bentuk pengajaran yang teruatama cocok untuk memenuhi fungsi pendidikan umum” latihan dan umpan balik” dan fungsi khusus “ memperbaiki motivasi siswa.” Penggunaan kegiatan belajar mengajar ini mempunyai tujuan agar siwa mampu mencari dan menemukan sendiri jawaban atas persoalan yang dihadapinya sekaligus membuktikan kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya (Utomo, 1994).
Kerja praktek memberikan siswa suatu ide, untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh dari kelas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kerja praktek dapat menolong siswa untuk mendemonstrasikan hal-hal dengan mata pelajaran secara menyeluruh (Percival, 1998).
Menurut Arsyad (2000) ” Belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung.” Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
Beberapa kelebihan praktikum (Percival dan Ellington, 1998) :
1. Dalam penyapaian bahan, menggunakan kegiatan dan pengalaman langsung dan konkrit. Kegiatan dan pengalaman demikain lebih menarik perhatian siswa dan memungkinkan pembentukan konsep-konsep abstrak yang mempunyai makna
2. Lebih realistis dan mempunyai makna, sebab siswa bekerja langsung dengan contoh-contoh nyata. Siswa langsung mengaplikasikan kemampuannya
3. Para siswa belajar langsung menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah pemecahan masalah
4. Banyak memberikan kesempatan bagi keterlibatan siswa dalam situasi belajar. Kegiatan demikian akan banyak membangkitkan motivasi belajar sebab kegiatan belajar akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa.
Beberapa kelemahan pratikum (Percival dan Ellington, 1998) :
1. Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan belajar secara teori
2. Bagi siswa yang berusia muda, kemampuan berpikir rasional mereka masih terbatas
3. Menuntut kemandirian, kepercayaan diri sendiri, kebiasaan bertindak sebagai subjek pada lingkungan yang kurang memberikan peran kepada anak sebagai subjek. Mereka lebih banyak diperlakukan sebagai objek
4. Kesukaran dalam menggunakan factor subjektifitasnya, terlalu cepat sampai kepada kesimpulan dan membuat generalisasi yang terlalu umum dari pengalaman yang sangat terbatas.
Tujuan praktikum menurut Utomo dan Ruijter (1994) :
• Keterampilan kognitif yang tinggi :
– Melatih agar teori dapat dimengerti
– Agar segi-segi teori yang berlainan dapat diintegrasikan
– Agar teori dapat diterapkan kepada problema yang nyata
• Keterampilan afektif :
– Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri
– Belajar bekerja sama
– Belajar mengkomunikasikan informasi mengenai bidangnya

• Keterampilan psikomotor :
– Belajar memasang peralatan sehingga benar-benar berjalan
– Belajar memakai peralatan dan instrument tertentu.

2.1.7. Pokok Bahasan Asam-Basa
A. Asam
Kata asam berasal dari bahasa Latin “Acid” yang berarti asam. Menurut Arrhenius
asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion H+
HCl(l) + air → H+(aq) + Cl-(aq)
Sifat- sifat asam adalah :
 Asam mempunyai rasa asam
 Asam mengubah lakmus biru menjadi merah
 Bersifat korosif terhadap logam
Dalam kehidupan sehari – hari kita mengenal berbagai jenis zat yang digolongkan sebagai asam, misalnya asam cuka, asam sitrun, asam jeruk dan asam belimbing.
B. Basa
Basa adalah zat-zat yang dapat menetralkan asam. Menurut Arrhenius basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air mengahsilkan ion OH-
NaOH(l) + air → Na+(aq) + OH-(aq)
Sifat- sifat basa adalah :
 Basa mempunyai rasa pahit
 Basa mengubah lakmus merah menjadi biru
 Menetralkan asam
Dalam kehidupan sehari – hari kita mengenal berbagai jenis zat yang digolongkan sebagai basa, misalnya kapur sirih, air sabun dan air abu.
C. Indikator Asam-Basa
Asam adalah zat yang dalam larutan airnya berasa masam, sedangkan basa adalah zat yang dalam larutannya berasa pahit. Akan tetapi, tidak semua asam ataupun basa dapat kita cicipi begitu saja karena banyak di antara asam dan basa bersifat racun dan korosif.
Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam, basa atau netral digunakan indikator. Kertas lakmus merupakan salah astu indicator yang dapat menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa. Lakmus merah merupakan indikator untuk larutan asam dan lakmus biru merupakan indicator untuk larutan basa. Selain kertas lakmus, indikator dalam bentuk larutan juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu larutan bersifat asam atau basa, serta dapat menentukan kekuatan asam (derajat keasaman).

Nama Indikator Perubahan Warna
Larutan Asam Larutan Basa Larutan Netral
Lakmus merah Merah Biru merah
Lakmus biru Merah Biru Biru
Fenolftalein Tidak berwarna Merah Tidak Berwarna

D. Tingkat Keasaman (pH)
Tingkat keasaman lazim dinyatakan dengan skala pH, Biasanya skala pH berkisar dari 0 – 14 dengan ketentuan sebagai berikut :
• Larutan asam mempunyai pH 7
• Larutan netral mempunyai pH = 7
Jadi, semakin asam suatu larutan semakin kecil pH-nya. Larutan dengan pH = 1 memiliki sifat 10 kali lebih asam daripada larutan dengan pH = 2, larutan dengan pH = 1 memiliki sifat 100 kali lebih asam daripada larutan dengan pH = 3, dan seterusnya.
Tingkat keasaman dapat ditentukan dengan menggunakan indikator pH (indikator universal) atau dengan pH meter. Indikator universal memberi warna yang berbeda pada rentang pH yang relatif sempit. Adapun indikator asam basa seperti kertas lakmus dan fenolftalein, tidak dapat menunjukkan pH karena warnanya sama saja untuk rentang yang relatif lebar.
Dengan kertas indikator universal, kita dapat mengetahui pH larutan tersebut dengan cara mencelupkan sepotong indikator universal ke dalam larutan.
Perubahan warna indikator dicocokkan dengan tabel warna yang mempunyai trayek pH dari 0 sampai dengan 14

2.2. Kerangka Konseptual
Salah satu penyebab kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran kimia di sekolah adalah penerapan metode pengajaran yang kurang tepat. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan metode pengajaran yang tepat, yaitu dengan menggunakan metode praktikum.
Metode praktikum dapat meningkatkan minat dan perhatian siswa dalam belajar. Hal ini disebabkan karena dalam pelaksanaan praktikum siswa dapat lebih aktif dan terlibat secara langsung dalam usaha memperoleh pengetahuan dan pemahaman teori-teori berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan sehingga diharapkan siswa dapat memperoleh hasil belaar yang lebih baik.
Keberhasilan penggunaan metode praktikum didukung oleh ketersediaan alat dan bahan kimia di laboratorium serta keterampilan guru dalam pelaksanaan praktikum. Disamping itu keberhasilan metode ini juga bergantung pada tingkat motivasi siswa yang memadai untuk mengamati hasil kegiatan praktikum yang dilakukannya.

2.3. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah:
Ha: Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kimia siswa yang diajar dengan metode praktikum dan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa metode praktikum.
Ho: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kimia siswa yang diajar dengan metode praktikum dan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa metode praktikum.
Hipotesis statistik:
Ha:
Ho:
Keterangan:
: Hasil belajar kimia siswa yang diajar dengan metode praktikum
: Hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa menggunakan metode praktikum

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sidikalang T.A. 2008/2009, dan diadakan pada bulan November 2008.
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1 Sidikalang T.A. 2008/2009 yang terdiri dari 6 kelas dan berjumlah 240 siswa.
3.2.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua kelas yang diambil secara acak, kelas IX1 sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu kelas IX6.
3.3. Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
3.3.1. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas : Penggunaan metode praktikum
2. Variabel terikat : Hasil belajar kimia siswa
3.3.2. Rancangan Penelitian
Tabel 3.3.2.Desain pre-test dan post-tes dua kelompok
Sampel Pre-tes Perlakuan Post-test
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol Y1
Y1 X1
X2 Y2
Y2
Keterangan :
X1 = Metode pembelajaran dengan menggunakan metode praktikum
X2 = Metode pembelajaran langsung tanpa menggunakan metode praktikum
Y1 = Pre-test
¬ Y2 = Post-test

Gambar 3.3 Desain Penelitian

3.4. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif yaitu dalam bentuk pilihan berganda. Jumlah option yang ada pada tiap soal disediakan empat butir. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tes, maka dilakukan uji instrument. Ini dilakukan sebelum pengambilan data.
a. Uji Validitas
Untuk mengetahui kesahihan instrumen, digunakan rumus korelasi product moment (Arikunto, 2003).

Keterangan:
N = Jumlah siswa
rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
X = Jumlah jawaban benar kelompok x
Y = Jumlah jawaban benar kelompok y
XY = Jumlah perkalian kelompok x,y
Untuk menafsirkan keberartian harga validitas tiap soal maka harga tersebut dikonsultasikan ke tabel harga kritik r product moment, dengan kriteria rhitung > rtabel, untuk taraf nyata  = 0,05, maka korelasi dikatakan valid.
b. Uji Reliabilitas
Untuk menentukan reliabel tes digunakan rumus K-R.20 (Arikunto, 2003), dimana:

Keterangan: r : Relibialitas yang dicari
p : Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q : Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
S2 : Varians total
n : Jumlah siswa
Untuk mengartikan angka relibialitas digunakan acuan sebagai berikut:
0,00 – 0,40 : relibialitas rendah
0,41 – 0,70 : relibialitas sedang
0,71 – 0,90 : relibialitas tinggi
0,91 – 1,00 : relibialitas sangat tinggi
Untuk menafsirkan keberartian harga reliabilitas dari tiap soal maka harga perhitungan dikonfirmasikan ke tabel harga kritik r product moment dengan  = 0,05 jika rhitung > rtabel maka soal reliabel.
c. Uji Daya Pembeda Soal
Daya pembeda tes untuk tiap-tiap item dapat dicari dengan rumus:

Keterangan : D = Daya pembeda butir soal
= Banyak peserta kelompok atas yang menjawab benar
= Banyak peserta kelompok atas
= Banyak peserta kelompok bawah
= Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Adapun kriteria daya pembeda adalah:
D : 0.00-0.20 dikategorikan buruk
D : 0.21-0.40 dikategorikan cukup
D : 0.41-0.70 dikategorikan baik
D : 0.71-1.00 dikategorikan sangat baik
D : Negative dikategorikan soal tidak baik, soal sebaiknya dibuang
(Arikunto, 2003)
d. Uji Taraf Kesukaran Soal
Untuk menghitung taraf kesukaran soal digunakan rumus berikut:

Keterangan : P : Indeks kesukaran
B : Subjek yang menjawab
J : banyak subyek yang mengerjakan
Adapun kriteria tingkat kesukaran adalah:
(1). Soal dengan P : 0.00-0.3 adalah soal sukar
(2). Soal dengan P : 0.31-0.70 adalah soal sedang
(3). Soal dengan P : 0.71-1.00 adalah soal mudah
3.5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perbedaan dengan menggunakan rumus uji –t, sebelum melaksanakan uji –t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas varians sampel.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-Kuadrat dengan langkah-langkah sebagai berikut :
– Ditentukan jumlah kelas interval dimana untuk uji chi kuadrat jumlah kelas interval ditetapkan = 6. Hal ini sesuai dengan 6 bidang yang ada pada kurva nilai baku.
– Ditentukan panjang kelas interval (PK) dengan rumus :
Panjang Kelas =
– Disusun data kedalam tabel penolong.
– Dicari X2 hitung =
– Ditentukan kriteria pengujian X2 hitung < X2 tabel, maka data berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah cara varians terbesar dibandingkan varians terkecil, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
– Dituliskan Ha dan Ho dalam bentuk kalimat.
– Dituliskan Ha dan Ho dalam bentuk statistik.
– Dicari Fhitung dengan menggunakan persamaan:
Fhitung =
– Ditetapkan  yaitu 0,05.
– Dihitung Ftabel = F(n terbesar – 1, varians ¬terkecil – 1)
– Dibandingkan Fhitung dengan Ftabel.
– Ditentukan kriteria pengujian, jika Fhitung 7
c. memerahkan lakmus biru
d. korosi terhadap logam
2. Yang merupakan contoh larutan asam adalah ……
a. air sabun
b. air jeruk
c. air kapur
d. air suling
3. Lakmus merah berubah menjadi biru saat dimasukkan ke dalam air kapur. Hal yang sama akan terjadi juga dalam …..
a. asam cuka
b. air jeruk
c. air sabun
d. coca-cola
4. Suatu larutan tidak mengubah warna kertas lakmus merah. Dapat disimpulkan bahwa …..
a. larutan bersifat asam
b. larutan bersifat basa
c. larutan bersifat netral
d. larutan perlu diuji dengan lakmus biru sebelum menarik kesimpulan
5. Zat atau bahan berikut bersifat basa yaitu …..
a. minuman bersoda
b. air hujan
c. detergen
d. susu

6. Suatu larutan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru. Dapat disimpulkan bahwa …..
a. larutan bersifat asam
b. larutan bersifat basa
c. larutan bersifat netral
d. larutan perlu diuji dengan lakmus biru sebelum menarik kesimpulan
7. pH larutan dapat ditentukan dengan
1. Kertas lakmus
2. Indikator universal
3. pH meter
a. 1, 2 dan 3
b. 1 dan 2
c. 2 dan 3
d. 3 saja
8. pH dari berbagai bahan sebagai berikut :
Larutan pH
Getah lambung
Jus tomat
Pasta gigi
Darah 1,2
4,1
9,9
7,4
Jika bahan – bahan di atas disusun berdasarkan tingkat keasamannya, dimulai dari yang paling asam, maka urutan yang benar adalah …..
a. pasta gigi – darah – jus tomat – getah lambung
b. getah lambung – jus tomat – darah – pasta gigi
c. jus tomat – getah lambung – darah – pasta gigi
d. jus tomat – pasta gigi – getah lambung – darah
9. Suatu bahan memiliki sifat :
1. memerahkan lakmus biru
2. pH = 6,6
3. bersifat masam
Dari data di atas, bahan yang mungkin memiliki sifat tersebut adalah …..
a. susu
b. sabun
c. shampoo
d. detergen
10. Rumus kimia asam cuka adalah …..
a. HCl
b. HNO3
c. H2SO4
d. CH3COOH
11. Kedalam air sabun diteteskan indikator Phenolftalein. Hal yang mungkin terjadi adalah …..
a. warna larutan menjadi biru
b. warna larutan menjadi merah
c. warna larutan menjadi bening
d. tidak terjadi perubahan
12. Diberikan beberapa bahan :
1. cuka
2. detergen
3. air jeruk
4. susu
5. sabun
Yang termasuk kelompok asam adalah …..
a. 1, 2 dan 3
b. 1, 3 dan 5
c. 1, 3 dan 4
d. 2, 3 dan 4
13. Kedalam suatu larutan diteteskan indikator phenolftalein, ternyata tidak terjadi perubahan warna. Kemungkinan larutan yang ditetesi tersebut adalah …..
a. cuka
b. sabun
c. detergen
d. air kapur
14. Berikut ini merupakan sifat basa adalah …..
a. korosif terhadap logam
b. tidak mengubah kertas lakmus
c. berasa pahit
d. mengubah lakmus biru menjadi merah
15. Alat untuk mengidentifikasi sifat asam dan basa disebut …..
a. lakmus merah
b. lakmus biru
c. pH meter
d. indikator asam – basa
16. Yang bukan termasuk ke dalam golongan asam maupun basa adalah …..
a. air suling
b. air soda
c. air sabun
d. shampoo
17. Bahan – bahan di bawah ini akan mengubah lakmus biru menjadi merah kecuali …..
a. air sabun
b. air suling
c. air jeruk
d. air kapur
18. Diketahui : Larutan A pH = 1,2
Larutan B pH = 2,3
Larutan C pH = 7,9
Larutan D pH = 9,2
Semua pernyataan di bawah ini adalah benar sesuai data diatas, kecuali …..
a. larutan D paling asam diantara semua larutan
b. larutan A dan B bersifat asam
c. larutan D lebih bersifat basa daripada larutan C
d. larutan B lebih bersifat basa daripada larutan A

19. Air suling dikatakan bersifat netral karena …..
a. memiliki pH = 7
b. tidak mengubah warna kertas lakmus merah maupun biru
c. bila direaksikan dengan indikator pp tidak menghasilkan perubahan warna
d. a, b dan c benar

20. Diketahui larutan A memiliki pH = 1 dan larutan B memiliki pH = 2. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa …..
a. larutan A memiliki sifat 10 kali lebih asam dari larutan B
b. larutan B memiliki sifat 10 kali lebih asam dari larutan A
c. larutan A memiliki sifat 2 kali lebih asam dari larutan B
d. larutan B memiliki sifat 2 kali lebih asam dari larutan A

PENUNTUN PRAKTIKUM

A. Dasar Teori
 Indikator Lakmus
Untuk mengetahui suatu larutan barsifat asam, basa atau netral digunakan indikator. Kertas lakmus merupakan salah satu indikator yang dapat menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa. Lakmus merah merupakan indikator untuk larutan basa dan lakmus biru merupakan indikator untuk larutan asam.
Jika ke dalam suatu larutan kita masukkan kertas lakmus merah atau biru dan ternyata tidak terjadi perubahan warna pada kertas lakmus, maka larutan tersebut bersifat netral.
 Indikator Fenolftalein
Indikator fenolftalein merupakan salah satu indikator yang dapat menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa. Indikator ini berwarna merah dalam larutan basa, tetapi tidak berwarna dalam larutan asam ataupun larutan netral
 Indikator Universal
Indikator lakmus hanya dapat memberikan perubahan warna dalam suatu larutan asam, basa dan netral, tetapi dengan menggunakan indikator universal dari adanya perubahan dapat diketahui pH suatu larutan. Indikator universal bisa dalam bentuk kertas ataupun cairan.
Dengan kertas indikator universal, kita dapat mengetahui pH larutan tersebut dengan cara mencelupkan sepotong indikator universal ke dalam larutan.
Perubahan warna indikator dicocokkan dengan tabel warna yang mempunyai trayek pH dari 0 sampai dengan 14 dengan ketentuan sebagai berikut :
• Larutan asam mempunyai pH 7
• Larutan netral mempunyai pH = 7

B. Tujuan Percobaan
1. Menguji keasaman dan kebasaan larutan dengan menggunakan indikator yang sesuai
2. Mengelompokkan berbagai jenis zat / larutan ke dalam kelompok larutan asam, basa atau netral
3. Mengetahui perbedaan keasaman larutan berdasarkan pengukuran pH

C. Alat dan Bahan
1, Alat
Tabung reaksi 10 buah
Gelas kimia 100 ml 2 buah
2. Bahan
Kertas lakmus merah / biru Detergen
Larutan gula Asam cuka
Air suling Minuman bersoda
Air kapur Air garam
Air jeruk Shampoo
Air sabun

D. Prosedur Kerja
 Uji asam basa dengan menggunakan kertas lakmus
1. Sediakan 10 buah tabung reaksi
2. Masukkan masing-masing bahan sebanyak 5 ml ke dalam masing-masing tabung reaksi
3. Sediakan kertas lakmus sepanjang 1 cm dan celupkan kedalam masing-masing tabung reaksi. Catat hasil pengamatanmu
4. Ulangi prosedur 1-3 dengan mengubah kertas lakmus merah menjadi kertas lakmus biru

 Uji asam basa dengan menggunakan indikator fenolftalein
1. Sediakan 10 buah tabung reaksi
2. Masukkan masing-masing bahan sebanyak 5 ml ke dalam masing-masing tabung reaksi
3. Ke dalam masing-masing tabung masukkan 2 tetes indikator fenolftalein. Amati perubahan yang terjadi dan catat hasil pengamatanmu
 Uji asam basa dengan menggunakan indikator universal
1. Ke dalam 5 buah tabung reaksi masukkan masing-masing larutan gula, air suling, minuman bersoda, larutan cuka dan air kapur
2. Kedalam masing-masing tabung reaksi celupkan sepotong indikator universal, amati perubahan yang terjadi.
3. Cocokkan warna indikator universal dengan trayek pH, kemudian tentukan pH larutan yang diuji
E. Tabel Pengamatan
1. Uji asam basa dengan menggunakan kertas lakmus
No. Bahan Perubahan warna pada indikator Kesimpulan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10. Detergen
Larutan gula
Asam cuka
Air suling
Minuman bersoda
Air kapur
Air garam
Air jeruk
Shampoo
Air sabun

2. Uji asam basa dengan menggunakan indikator fenolftalein
No. Bahan Perubahan warna pada indikator Kesimpulan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10. Detergen
Larutan gula
Asam cuka
Air suling
Minuman bersoda
Air kapur
Air garam
Air jeruk
Shampoo
Air sabun

3. Uji asam basa dengan menggunakan indikator universal
No. Bahan pH
1.
2. 3.
4.
5. Larutan gula
Air suling
Minuman bersoda
Larutan cuka
Air kapur

RENCANA PROGRAM PENGAJARAN
(RPP)
(Kelas Eksperimen)

Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/ Semester : IX/ Ganjil
Tahun Pelajaran : 2008/2009
Alokasi Waktu : 3×45′
D. Kompetensi Dasar
Mengelompokkan sifat zat melalui alat dan indicator yang tepat serta mengkomunikasikannya.
E. Indikator
Mengindentifikasi sifat asam, basa degan menggunakan indicator yang sesuai.
F. Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui dan memahami sifat-sifat asam, basa
2. Mengenal indikator alami dan indicator buatan yang digunakan untuk mengindentifikasi asam, basa
3. Menyebutkan bahan-bahan yang bersifat asam dan basa
G. Materi Pembelajaran
Asam dan Basa
H. Metode Pembelajaran
Metode Praktikum
I. Kegiatan Belajar Mengajar
Pertemuan Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Alokasi Waktu (menit)
I 1. Kegiatan Awal
Pre-test
2. Kegiatan Inti
– Menjelaskan secara ringkas mengenai asam dan basa serta sifatnya
– Menjelaskan prinsip dasar indicator yang digunakan untuk mengindentifikasikasi sifat asam dan basa
3. Kegiatan Penutup
– Menyimpulkan materi yang baru dibahas
– Menginformasikan pelaksanaan praktikum pada pertemuan selanjutnya
– Membagi siswa kedalam kelompok Mengerjakan soal

Mendengarkan

Mendengarkan

Mendengarkan dan bersama-sama dengan guru menyimpulkan materi pelajaran 15′

25′

5′

II 1. Kegiatan Awal
– Memotivasi siswa untuk melakukan praktikum sesuai dengan penuntun praktikum yang diberikan
– Menyampaikan tujuan pelajaran
2. Kegiatan Inti
– Membimbing siswa melakukan praktikum

- Menugaskan siswa untuk mengisi lembar pengamatan dari praktikum yang dilakukan
3. Kegiatan Penutup
– Mengumpulkan lembar pengamatan siswa
– Menutup pelajaran
Mendengarkan

Memperhatikan

Bekerja sesuai dengan panduan yang diberikan
Mengisi lembar pengamatan dari percobaan yang dilakukan 5′

35′

5′

III 1. Kegiatan Awal
– Memberi salam pembuka
– Mengembalikan lembar pengamatan siswa yang telah dikoreksi
2. Kegiatan Inti
– Membahas tugas/pekerjaan siswa bersama dengan siswa
– Memberikan Post-test kepada siswa

3. Kegiatan Penutup
– Mengumpulkan hasil post-test
– Menutup pertemuan dengan salam penutup
Memperhatikan

Mendengar dan memperhatikan

Mengerjakan soal 5′

10′

25′

5′

RENCANA PROGRAM PENGAJARAN
(RPP)
(Kelas Eksperimen)

Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/ Semester : IX/ Ganjil
Tahun Pelajaran : 2008/2009
Alokasi Waktu : 3×45′
A. Kompetensi Dasar
Mengelompokkan sifat zat melalui alat dan indicator yang tepat serta mengkomunikasikannya.
B. Indikator
Mengindentifikasi sifat asam, basa degan menggunakan indicator yang sesuai.
i. C. Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui dan memahami sifat-sifat asam, basa
2. Mengenal indicator alami dan indicator buatan yang digunakan untuk mengindentifikasi asam, basa
3. Menyebutkan bahan-bahan yang bersifat asam dan basa
D. Materi Pembelajaran
Asam dan Basa
E. Metode Pembelajaran
Metode Praktikum
F. Kegiatan Belajar Mengajar
Pertemuan Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Alokasi Waktu (menit)
I 1. Kegiatan Awal
Pre-test
2. Kegiatan Inti
– Menjelaskan pengertian asam dan basa
– Menjelaskan sifat asam dan basa
– Menugaskan siswa menyebutkan contoh-contoh bahan yang bersifat asam dan basa dalam kehidupan sehari-hari
3. Kegiatan Penutup
– Menyimpulkan materi yang baru dibahas
– Memberi tugas/PR kepada siswa Mengerjakan soal

Mendengarkan dan memperhatikan

Menyebutkan contoh bahan yang bersifat asam dan basa

Mendengarkan dan memperhatikan 15′

25′

5′

II 1. Kegiatan Awal
– Mengumpulkan tugas yang telah diberikan sebelumnya
– Membuka pelajaran dengan mengingat kembali pelajaran yang lalu
– Menyampaikan tujuan pelajaran
2. Kegiatan Inti
– Menjelaskan prinsip dasar indicator asam dan basa yang menggunakan kertas lakmus
– Menjelaskan cara penentuan tingkat keasaman (pH) dengan menggunakan indikator universal
3. Kegiatan Penutup
– Menyimpulkan materi pelajaran
– Memberikan tugas/ PR kepada siswa mengenai materi yang baru dibahas
Mengumpulkan tugas

Mendengarkan

Memperhatikan

Memperhatikan

Mendengarkan dan memperhatikan

Memperhatikan 10′

30′

5′

III 1. Kegiatan Awal
– Memberi salam pembuka
– Mengumpulkan tugas
2. Kegiatan Inti
– Membahas tugas/pekerjaan siswa bersama dengan siswa
– Memberikan Post-test

3. Kegiatan Penutup
– Mengumpulkan hasil post-test
– Menutup pertemuan dengan salam penutup
Mendengarkan dan memperhatikan

Membahas tugas yang telah dikerjakan
Mengerjakan Post-test

5′

10′

25′

5′

About these ads