Standar Kelulusan Ujian Nasional Naik dari 5,25 menjadi 5,50.


Rabu, 3 Desember 2008 | 17:51 WIB

SEMARANG, RABU – Rencana Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang akan menaikkan standar nilai kelulusan ujian nasional (UN) 2009 perlu disikapi arif dan bijaksana. Sebab, hal itu bertujuan untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Fathur Rokhman, di Semarang, Rabu mengatakan, rencana menaikkan standar kelulusan UN dari 5,25 menjadi 5, 5 merupakan salah satu upaya serius pemerintah memajukan dunia pendidikan.

“Rencana menaikkan standar ujian nasional merupakan sebuah kebijakan tepat. Pemerintah Indonesia perlu terus-menerus memperbaiki kualitas pendidikan agar tidak jauh tertinggal dari negara lain. Di Malaysia sudah menetapkan standar kelulusan dengan nilai tujuh,” katanya.

Ia menilai, pemerintah sudah mulai serius menangani masalah pendidikan di Indonesia dengan menaikkan standar kelulusan UN. Kesungguhan pemerintah juga dapat dilihat pada rencana realisasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen pada 2009.

Adanya keluhan dan keberatan beberapa pihak seperti siswa dan guru terkait standar UN, ia mengaku semua itu belum bisa mewakili suara siswa dan guru secara representatif.

“Keluhan dari sekolah, menunjukkan sekolah bersangkutan belum memahami hakikat UN sesungguhnya. UN hanya memberikan standar kelulusan dan bukan satu-satunya penentu kelulusan, karena masih ada variabel lain seorang siswa bisa dinyatakan lulus,” katanya.

Namun, dia mengakui dalam pelaksanaannya, kenaikan standar kelulusan UN bisa saja menimbulkan problem baru.

“Secara umum, kualitas sekolah di Indonesia berbeda. Sekolah di daerah maju tentu lebih siap menghadapi kenaikan standar UN dibandingkan sekolah di daerah kurang maju karena ketersediaan sarana dan prasana. Oleh karena itu Depdiknas harus mensosialisasikan dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Kenaikan standar UN, katanya, diharapkan dapat memacu para guru dan siswa lebih giat lagi meningkatkan prestasi, bukan malah menimbulkan efek psikologis negatif para siswa.

Fatur Rokhman mengatakan, persiapan matang juga harus dilakukan sekolah menghadapi UN 2009 untuk mengurangi jumlah siswa yang tidak lulus.

Sumber : Antara