Jantung Bocor yang Tak Kenal Usia


Jantung Bocor yang Tak Kenal Usia

Jakarta, Kompas

Kirim Teman | Print Artikel

Berita Terkait:
• Kematian Mendadak (Tidak) Hanya Dialami Pria!
• Menambal JANTUNG BOCOR Tanpa Operasi

AKHIR bulan Agustus 2004 ketika vonis itu diucapkan, kepala Eka Suriani (35) serasa tak mau berhenti berputar. Sedangkan suaminya, Herman Syah (40), sibuk mencari tahu tentang vonis yang baru saja didengarnya dari dokter yang memeriksa anak keduanya, Hadiyan (5).

DIYAN, nama panggilannya, divonis dokter menderita ASD atau atrial septal defect yang sering disebut sebagai jantung bocor. Haruskah Diyan yang kalem dan baru menikmati hari-hari awalnya di taman kanak-kanak itu mesti menjalani operasi berjam-jam? Padahal gejala awal yang membuat Diyan berurusan dengan dokter relatif “sepele”, dia panas tinggi disertai muntah berak.

Ketika datang ke dokter, baik Eka maupun Herman hanya berpikir anaknya sakit di bagian perut, mungkin karena infeksi atau bakteri. Mereka juga tetap tak menyangka anaknya bakal terkena sakit jantung-jenis penyakit yang secara umum dianggap banyak diderita orang berusia lanjut-pada usia yang masih amat muda.

“Sejak lahir Diyan tumbuh tak beda dengan anak-anak biasa. Dia juga makan seperti biasa dan bermain dengan kakaknya, Hasya (10). Meski kalau diingat-ingat, Diyan memang sering mengeluh capek dan minta digendong. Pertumbuhan badan Diyan juga normal, cuma dia belum bisa naik sepeda roda dua saja,” tutur Herman Syah tentang Diyan yang lahir dengan berat badan 3,9 kilogram dan panjang 49 sentimeter itu.

Dokter tempat mereka berobat lalu memberi surat pengantar ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (RSJHK), Slipi, Jakarta Pusat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan-tak kurang dari delapan jenis pemeriksaan-dokter RSJHK menyimpulkan Diyan menderita ASD.

“Dengan gambar-gambar yang cukup jelas, dokter menerangkan tentang ASD. Intinya jantung Diyan bocor sehingga sebagian darah bersih bercampur dengan darah kotor. Ini berbeda dengan jantung bocor di mana darah kotor bercampur dengan darah bersih, di sini bisa langsung ketahuan karena ada gejala biru pada kuku dan bibir,” tutur Herman Syah mengutip keterangan dokter.

Tak ada obat yang berarti untuk mengatasi penyakit jantung Diyan. Dokter hanya menawarkan satu-satunya jalan adalah lewat operasi jantung. “Ibunya langsung menangis, saya bingung. Kami lalu memutuskan berbicara dan bertukar pendapat dengan orangtua dan saudara-saudara,” ujar Herman Syah mengenang.

Tak cukup puas dengan pendapat yang diberikan kerabatnya, Herman Syah memutuskan untuk mencari opini lain tentang kesehatan Diyan. Dia lalu membawa anak itu ke dokter spesialis jantung anak lainnya, dan ternyata diagnosa dari dokter ini pun tak berbeda dengan dokter pertama.

HERMAN Syah dan Eka tak bisa membayangkan anak sekecil Diyan harus tergolek di meja operasi. Mereka lalu mencari tahu lebih jauh tentang penyakit jantung, khususnya ASD, sebelum memutuskan pengobatan bagi Diyan.

Herman membeli banyak buku tentang penyakit jantung, dia juga membuka-buka internet, bahkan membeli stetoskop untuk mendengar sendiri benarkah detak jantung anaknya lebih bergemuruh daripada detak jantung anak normal? Lewat berbagai informasi itu dia tahu tentang pengobatan jantung tanpa operasi terbuka yang disebut amplatzer.

“Membaca tentang kesuksesan amplatzer di internet, kami lalu memilih cara ini untuk mengobati Diyan. Namun dokter di RSJHK sepakat bahwa Diyan akan dioperasi biasa, istilahnya open heart surgery,” tutur Herman yang menuliskan pengalamannya sejak Diyan divonis menderita ASD sampai selesai operasi.

Ini berarti tak ada pilihan lain bagi Diyan, selain operasi atau tidak. Mereka tak berminat pada pengobatan alternatif. Setelah memutuskan operasi bagi Diyan, mereka masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan tindakan, seperti pemeriksaan gigi dan telinga hidung tenggorok (THT).

“Kami beruntung karena dokter-dokter di RSJHK terbuka dan informatif. Dari awal memutuskan operasi, mereka sudah memberi tahu apa saja langkah yang harus kami lakukan dan bagaimana peran orangtua di sini,” kata Herman.

Meski penjelasan dokter cukup jelas, namun bagi Herman semua itu tak cukup untuk menutup rasa khawatirnya. Dia juga baru tahu bahwa anaknya memerlukan bius total ketika delapan giginya dicabut dan satu ditambal dalam waktu bersamaan. Dia juga harus membawa Diyan ke dokter spesialis THT untuk memastikan tak ada infeksi yang bisa mengganggu jalannya operasi jantung.

“Berbulan-bulan kami menanggung rasa khawatir itu. Sejak bulan Agustus sampai selesai operasi bulan Januari lalu,” kata Herman yang ingin berbagi pengalaman dengan anak berpenyakit jantung, mengingat dia merasa kurang informasi saat anaknya divonis menderita sakit jantung.

TAK ada gejala yang spesifik juga ditunjukkan Pingkan Ayu (7), anak penderita jantung bocor lainnya. Ibunya, Sulistianingsih (36), mengenang Pingkan sebagai bayi yang cepat tertidur ketika baru sebentar menyusu.

“Ternyata dia tidak tidur, tetapi pingsan karena jantungnya terlalu lelah saat mengisap susu,” kata Sulis tentang berat badan Pingkan yang saat bayi sulit sekali bertambah.

Sulis tak menyangka anaknya mengalami jantung bocor karena dokter anak yang memeriksa Pingkan hanya mengatakan anak itu tak pandai mengisap susu. “Bahkan saya juga dikatakan tidak pandai menyusui. Sampai dua kali saya dibilang tidak pandai menjadi ibu. Ketika saya pindah ke dokter anak yang lain, baru ketahuan kalau ini karena Pingkan punya kelainan jantung,” ucap Sulis, ibu dua anak.

Pingkan juga kerap mengalami batuk dan panas tinggi, hal yang bagi Sulis dianggapnya biasa karena seperti umumnya balita, organ tubuh yang belum sempurna membuat mereka rentan terhadap berbagai penyakit. Bedanya, penyakit batuk Pingkan tak bisa segera sembuh. Begitu kerapnya Pingkan sakit, sampai Sulis menandai setiap bulan sedikitnya empat kali dia mesti membawa Pingkan ke dokter.

Ketika Pingkan dibawa ke dokter jantung anak, dinyatakan bahwa Pingkan tak memerlukan operasi karena kebocoran di sekat jantungnya kecil. Dokter mengharapkan lubang itu akan menutup sendiri ketika Pingkan berusia tujuh tahun.

Namun setelah ditunggu-tunggu, kebocoran itu tak juga tertutup sehingga Pingkan harus dioperasi agar lubang di antara sekat jantungnya itu tidak semakin bertambah besar.

Cepat merasa lelah juga dirasakan Ismail (8), penderita bocor jantung yang juga berobat ke RSJHK. Menurut ibunya, Mariatul (42), Ismail tak kuat berjalan meski itu hanya 10 meter saja. Bahkan untuk buang air kecil ke kamar mandi pun dia mesti beristirahat berulang kali untuk mengatur napas.

“Karena tidak kuat melakukan aktivitas apa pun, sampai sekarang Ismail belum sekolah,” kata Mariatul yang membawa Ismail ke Jakarta dari tempat tinggal mereka di Musi Banyuasin, Palembang.

Dia mengaku sudah tahu Ismail menderita jantung bocor sejak anaknya berusia enam bulan, namun ketiadaan biaya membuat Mariatul tak bisa membawa Ismail berobat. Mariatul mengatakan, saat itu biaya untuk operasi mencapai sekitar Rp 32 juta.

Namun semakin hari kondisi fisik Ismail makin parah. Oleh karena darah kotornya bercampur dengan darah bersih, maka Ismail juga mudah mengalami infeksi gigi. Sama seperti Diyan, sebelum operasi jantung Ismail juga harus kehilangan sembilan giginya yang terinfeksi.

PENYAKIT jantung bukan lagi “monopoli” orang lanjut usia. Dokter Jusuf Rachmat, ahli bedah jantung anak di Pusat Jantung Nasional RSJHK mengatakan, pasien penyakit jantung bawaan (PJB) seperti Diyan, Ismail, dan Pingkan relatif banyak.

Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menyebutkan, setiap tahun 40.000 bayi lahir di Indonesia mengalami kelainan jantung bawaan. Sebanyak 24.000 anak di antaranya memerlukan tindakan operasi pada tahun pertama hidupnya. Padahal jumlah operasi yang dilakukan hanya sekitar 600 anak per tahun. Artinya, banyak pasien yang tak tertolong dan meninggal.

Jusuf mengakui, sebagian dokter umum, bahkan dokter anak sekalipun, sering tidak mempunyai informasi cukup tentang PJB. Akibatnya, sering kali diagnosa PJB tidak bisa ditegakkan. Selain itu, jumlah dokter jantung anak pun di Indonesia masih sangat kurang, belum sampai 25 orang.

Salah satu kesulitan menegakkan diagnosa PJB, menurut Jusuf, sebab tubuh penderita tak selalu menunjukkan gejala umum, yaitu biru pada kuku, lidah, dan mulut. “Pada penderita yang menunjukkan gejala biru itu lebih mudah terdeteksi. Di sini warna biru muncul karena darah kotor tercampur ke darah bersih, dan terbawa darah bersih mengalir ke seluruh tubuh,” tuturnya.

Ini berbeda dengan penderita PJB yang tidak menunjukkan gejala biru seperti Diyan. Diagnosa PJB relatif lebih sulit ditegakkan di sini. “Walaupun penderita tidak menunjukkan warna biru, namun sebenarnya banyak tanda-tanda yang bisa diwaspadai, seperti pertumbuhan anak terhambat. Misalnya, umur satu tahun seharusnya anak memiliki berat badan tiga kali dari berat waktu dia lahir. Biasanya anak dengan PJB berat badannya lebih rendah dari itu,” Jusuf menjelaskan.

Berat badan anak yang rendah antara lain akibat dari energi yang terkuras untuk membantu kerja jantung. Di sisi lain, penderita PJB yang darah kotornya bercampur dengan darah bersih, kalau tidak dioperasi bisa membahayakan jiwanya.

“Dokter bisa salah mendeteksinya sebagai penyakit TBC dan memberikan obat yang salah. Ini bisa terjadi karena paru-paru kebanjiran darah bersih dan darah kotor. Akibatnya paru-paru rusak juga,” ucap Jusuf menambahkan.

Salah satu gejala yang paling kerap muncul pada penderita PJB adalah suara aneh yang terdengar lewat stetoskop karena suara detak jantung penderita PJB biasanya sangat berisik. Pada anak balita, menurut Jusuf, ada kemungkinan lubang pada sekat jantung bisa menutup sendiri seiring dengan tahun-tahun pertumbuhan anak.

Namun di sisi lain, kemungkinan lubang itu membesar juga ada. Hal ini antara lain terjadi pada kasus Pingkan. Lubang pada sekat jantungnya yang semula tiga milimeter, seiring dengan pertumbuhannya justru membesar hingga 4,5 milimeter. Pembesaran lubang ini harus segera dihentikan dengan tindakan operasi.

Belum diketahui secara pasti apa penyebab PJB. Jusuf hanya mengatakan, kelainan ini terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, yakini pada trisemester pertama kehamilan di mana jantung baru terbentuk.

“Diduga karena janin mengalami tekanan dalam pertumbuhannya. Tekanan ini bisa berupa si ibu sakit, mengonsumsi obat yang keras, atau ada upaya aborsi,” ujar Jusuf menambahkan.

Bagaimanapun, dengan operasi-biayanya berkisar Rp 30 juta-Rp 60 juta-umumnya penderita PJB bisa beraktivitas seperti anak normal. Diyan misalnya, hanya delapan hari di rumah sakit untuk operasi, dan kembali muncul di rumah sebagai sosok yang lincah, tak lagi cepat merasa lelah, dan nafsu makannya dua kali lipat dari sebelum operasi.

“Tak sampai sebulan setelah operasi, Diyan sudah bisa sekolah. Sekarang ini kami ke dokter hanya untuk kontrol,” ucap Herman Syah lega.

Herman dan Eka, seperti juga orangtua anak penderita PJB lainnya, bisa bernapas lega setelah operasi sukses. Bedanya, mengingat bulan-bulan yang mesti dihabiskannya dengan perasaan waswas, kurang informasi, dan perlunya dukungan dari orangtua yang anaknya menderita PJB, Herman menuliskan semua pengalamannya sejak vonis itu dijatuhkan dokter.

“Saya berharap bisa menerbitkan catatan pengalaman ini lewat buku. Saya ingin berbagi pengalaman, hal yang tidak saya dapatkan waktu Diyan divonis menderita PJB,” ujarnya.

Sulis menambahkan, ketika masih berada di kota asalnya, Pekalongan, dia merasa keluarganya yang paling menderita. Mereka punya anak yang sakit jantung tapi tidak punya cukup uang untuk berobat.

Namun saat dia datang ke RSJHK, ternyata banyak orang yang senasib dengannya. Bahkan banyak yang lebih parah kondisinya.

“Saya merasa dikuatkan ketika ngobrol dengan sesama orangtua penderita. Penyakit Pingkan ternyata tidak separah yang lain. Saya amat bersyukur,” kata istri seorang polisi ini. (ARN/CP)