Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Balita


Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Balita Masih Cukup Banyak Penderitanya
dikutip dari Kesehatan online
Jumat, 16 Januari 2009.
Send this story to a friend Printable Version
Penyakit jantung bawaan pada anak balita masih cukup banyak penderitanya. Untunglah penyakit ini bisa diatasi meski biayanya cukup besar. Juga kita mesti berhati-hati bila anak menderita sakit tenggorokan. Sebab, bila tidak diberantas tuntas, kuman streptokokus yang menjadi biangnya bisa membuahkan penyakit jantung rematik yang sulit disembuhkan

Aji tampak kurus, pucat, dan tak bersemangat. Ia terus menyandarkan kepalanya pada pundak ibunya yang menggendongnya ke sana kemari, sambil menunggu giliran diperiksa dokter. Bocah berusia dua tahun itu, ungkap ibunya, sejak bayi kurang nafsu makan. Timbangan badannya sulit naik. Keaktifannya pun terbatas karena mudah capai dan sering menderita demam.

Dokter menduga, Aji menderita kelainan jantung. Sebab itu, Aji dianjurkan periksa kembali di rumah sakit jantung.

Bisa karena jamu

Penyakit jantung bawaan pada anak memang bukan penyakit langka. Di antara 1.000 anak lahir hidup di Indonesia, menurut data rumah-rumah sakit di Indonesia, sembilan di antaranya mengidap penyakit jantung bawaan. Hasil survai di luar negeri prevalensinya kurang lebih sama, kata dr. Ganesja M. Harimurti, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Sub Bagian Jantung Anak, RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Jadi, kelainan ini bukan hanya diderita oleh anak di negara-negara berkembang atau miskin, tambahnya.

Lebih dikenal dengan istilah jantung bocor atau penyakit jantung biru, kelainan itu antara lain karena sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya, jantung tidak berfungsi dengan baik.

Padahal, jantunglah yang memompa darah ke seluruh tubuh. Darah yang mengandung 96% zat asam (darah bersih yang berwarna merah segar) dari bilik kiri jantung dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah nadi. Saat kembali ke bilik kanan, darah tidak lagi bersih dan warna berubah menjadi lebih tua. Pada saat itu kadar zat asamnya tinggal sekitar 60%. Namun, selanjutnya darah kotor ini dipompa kembali dari bilik kanan, dialirkan ke paru-paru untuk menghirup zat asam sehingga menjadi bersih kembali. Begitulah aliran darah pada tubuh, yang berlangsung tanpa henti sepanjang hidup kita.

Bila sekat pemisah tidak tertutup sempurna, tentu saja darah kotor akan bercampur dengan darah bersih. Ini berakibat kerja jantung akan terganggu, sehingga sering mengeluarkan tanda-tanda biru, khususnya pada kuku jari tangan dan bibir penderita. Namun, bila kadar zat asam dalam darah masih berkisar 80%, umumnya tidak sampai memunculkan tanda biru, jelas dr. Ganesja.

Pertumbuhan anak yang menderita kebocoran sekat jantung juga terhambat. Nafsu makan berkurang dan umumnya bayi dengan penyakit ini tidak kuat menyedot ASI. Anak tampak lesu dan mudah capai. Bila dirontgen, jantung tampak membesar dan dengan pemeriksaan stetoskop terdengar suara bising (murmur). Selain itu, anak tak henti-hentinya mengalami batuk dan demam.

Disebut penyakit bawaan karena kebocoran terjadi sejak dalam kandungan. Semestinya, jantung bayi sudah terbentuk sempurna pada usia kehamilan tiga bulan. Tapi, karena beberapa hal seperti si ibu terserang penyakit campak jerman atau rubela, terjadilah ketidaksempurnaan itu.

Menurut dr. Ganesja, ibu yang melahirkan pada usia 35 tahun ke atas, atau suaminya sudah berusia lanjut (di atas 55 tahun) pun cukup berisiko melahirkan bayi dengan cacat bawaan ini.

Obat penenang, obat penghilang rasa mual atau jamu-jamuan tertentu yang diberikan selama usia kehamilan muda, terkena sinar radiasi, kurang vitamin, rokok (perokok aktif dan pasif) juga bisa merupakan biang keladinya. Ditambah lagi faktor genetik lain yang tidak atau belum diketahui penyebabnya.

Kebocoran sekat jantung antara satu penderita dengan yang lain tidak sama. Namun, banyak pula yang beruntung karena sekat tertutup dengan sendirinya sebelum anak berusia dua tahun, tambah dr. Ganesja.

Kapan sekat bisa atau perlu dikoreksi, kapan tidak perlu atau tidak bisa lagi dikoreksi, menurut spesialis jantung ini, tergantung pada cepat tidaknya si penderita diperiksakan ke dokter. Adakalanya, sedemikian kecil kebocorannya sehingga tidak perlu dikoreksi karena tidak akan mengganggu kesehatannya sepanjang hidupnya.

Penderitaan akan menjadi parah bila kebocoran yang cukup besar didiamkan selama bertahun-tahun, misalnya sampai usia anak mencapai 9 – 10 tahun. Kalau darah bersih bercampur darah kotor didiamkan sedemikian lama, akan terjadi perubahan pada paru-parunya. Pasalnya, paru-paru akan terus menampung darah kotor secara berlebihan yang lama-kelamaan akan menumpuk, sehingga dapat mengakibatkan kenaikan tekanan darah di paru-paru.

Keadaan itu disebut hipertensi paru-paru. Gejalanya, penderita merasakan sering sesak napas, sangat lesu, dan lemah. Wajah anak juga tampak kebiru-biruan. Kondisi demikian sudah dikatakan parah dan sulit direparasi lagi. Kejadian terlambat ini, menurut dr. Ganesja, sekitar 2% dari jumlah seluruh penderita.

Kelerlambatan itu biasanya karena ketidakpahaman atau kealpaaan para orang tua penderita soal kelainan itu, biaya, kurangnya informasi, atau kelengahan para dokter yang memeriksanya.

Bisa sembuh total

Bayi usia satu hari pun, kalau dalam keadaan mendesak, bisa ‘direparasi’, tutur dr. Ganesja. Walaupun tentu saja semakin besar usia sang bayi akan semakin mudah karena organ jantungnya akan lebih besar.

Tingkat kesulitan pembedahan penyakit jantung bawaan, menurut dr. Jusuf Rachmat, spesialis bedah jantung dari rumah sakit yang sama, sangat tergantung pada letak dan parah tidaknya kelainan itu. Ada yang cukup dilakukan satu kali koreksi, ada yang secara bertahap sampai beberapa kali. Selama dilakukan pembedahan jantung terbuka ini diperlukan mesin jantung-paru yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru untuk sementara.

Kebocoran pada sekat bilik jantung, seperti dikatakan dr. Jusuf, lebih mudah direparasi dibandingkan dengan sekat serambi jantung. Pasalnya, pada serambi dindingnya tipis dan tekanan tidak tinggi, sedangkan pada bilik tekanan lebih tinggi dan ototnya tebal. Kebocoran bilik yang kecil cukup ‘dijahit’ saja. Pada kebocoran yang lebih besar perlu ‘ditambal’ dengan selaput pembungkus jantung, katanya. Sedangkan kebocoran pada bilik ‘ditambal’ dengan semacam kain sintetis dari bahan dekron atau gortex, yang seumur hidup tidak akan ditolak atau dapat menyatu dengan tubuh.

Angka keberhasilan pembedahan jantung bawaan, menurut spesialis bedah jantung ini, semakin baik. Kini keberhasilan bisa di atas 95% dan anak akan tetap sehat sampai dewasa nanti, katanya. Kegagalan umumnya karena terdapat faktor kelainan lain di luar penyakit bawaan itu, tambah dr. Jusuf.

Katup jantung rusak

Selain penyakit kebocoran sekat jantung, ada lagi satu penyakit jantung pada anak yang sering diderita, yakni penyakit jantung rematik. Karena itu, janganlah dianggap sepele bila anak Anda tiba-tiba terserang demam tinggi (39 – 40oC) ditambah tenggorokan merah dengan bercak-bercak putih. Siapa tahu ia terserang kuman streptokokus. Kalau kuman ini tidak dibasmi tuntas dengan antibiotik atau penisilin, dikhawatirkan akan meninggalkan toksin yang mencetuskan penyakit demam rematik 1 – 2 bulan kemudian.

Menurut dr. Ganesja, jumlah penderita demam rematik yang datang ke RS Jantung Harapan Kita dalam satu tahun sekitar 10 – 20 anak usia 5 – 6 tahun. Rata-rata penderita jantung rematik anak dari kalangan masyarakat sosio-ekonomi rendah di negara dengan penduduk padat, seperti Indonesia, India, dan RRC. Pasalnya, keadaan rumah mereka banyak yang kumuh, kurang higienis ditambah lagi jarak antartetangga sangat berdekatan sehingga kuman ini mudah menular ke anak lain.

Perlu diwaspadai, setiap radang tenggorokan yang tanpa pengobatan antibiotik tampak sembuh, jangan dianggap sudah aman. Hati-hati pula bila timbul gejala lain seperti sakit pada persendian yang berpindah-pindah, sesak napas, jantung berdebar-debar, timbul bercak-bercak merah atau benjolan-benjolan kecil pada kulit. Ditambah lagi anak melakukan gerakan-gerakan yang tidak biasa dan tidak terkontrol seperti menggerak-gerakkan kepala atau tangan. Sebab, tanda-tanda demikian itu mungkin merupakan gejala demam rematik yang kalau tidak segera diatasi, anak bisa mengalami kerusakan atau pengerutan katup jantung atau kelemahan otot jantung.

Pengobatan yang segera dilakukan adalah pemberian suntikan penisilin setiap empat minggu sekali selama lima tahun. Biaya sekali suntik sekitar Rp 25.000,-. Bagi yang lebih berat keadaannya pengobatan bisa sampai 25 tahun! Mau tidak mau ini harus dilakukan secara teratur sampai tuntas supaya tidak kambuh kembali. Sebab bila alpa, bisa terjadi kekambuhan yang lebih parah, tegas dr. Ganesja. Dan ini sering terjadi pada masyarakat kita, tambah dr. Jusuf.

Biaya ini masih lebih murah dibandingkan kalau harus dibedah untuk memperbaiki atau mengganti katup yang rusak. Menurut dr. Jusuf, penggantian katup adakalanya bisa dari jaringan tubuh penderita sendiri, atau harus dari bahan sintetis. Acap kali kerusakan atau penciutan bisa terjadi pada dua katup.

Pada kasus kelemahan otot jantung, penyembuhan secara tuntas acap kali sulit dicapai, kecuali paling-paling dengan bantuan obat-obatan sepanjang hidupnya.

Diakui dr Ganesja, masalah biaya merupakan hambatan utama pada pengobatan ataupun pembedahan. Mana mungkin mereka membiayai operasi yang nilainya sampai Rp 35 juta? tutur dr. Ganesja. Apalagi kalau harus mengganti katup dari bahan semacam logam yang harganya selangit dan daya tahannya hanya sekitar 10 tahun. Harga sebuah katup sekitar Rp 12 juta – Rp 20 juta.

Pada penyakit jantung bawaan pun rata-rata orang tua penderita masih relatif muda, dengan penghasilan yang rata-rata pas-pasan. Padahal, biayanya mulai Rp 10 – 15 juta (bagi mereka yang hanya memerlukan sekali pembedahan) sampai Rp 24 – 35 juta!

Karena itu bantuan dana dari pihak ketiga seperti Yayasan Jantung Indonesia, sumbangan para pemirsa dan pencinta sebuah acara favorit di sebuah stasiun televisi swasta, dll. tentunya merupakan tindakan mulia dan menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi persoalan biaya pada mereka yang kurang mampu. Pihak rumah sakit dalam hal ini juga telah menyediakan dana khusus bagi mereka yang kurang mampu, namun masih belum mencukupi.

Mereka, anak-anak balita penderita kelainan jantung bawaan dan lainnya yang berasal dari keluarga tak mampu, masih membutuhkan uluran tangan kita agar mereka bisa menyongsong masa depan yang lebih baik.